Terkadang, saya berfikir, bahwa kenapa Allah tidak membuat semua orang sama-sama sukses saja sih? Saya sedih bila harus melihat yang lain kekurangan, atau terkadang setan menggoda untuk kita iri dan dengki karena yang lain memiliki kelebihan, dalam bidang apapun, materi, kemampuan, nasib, atau apapun. Saya hanya berfikir, pasti ada sebuah hikmah yang terkandung dalam setiap kejadian yang Allah hadirkan di depan kita.

Menekuni aktivitas yang sama namun dengan cara yang berbeda, dalam jangka panjang, hasilnya pun akan berbeda.

Bayangkan saja, setiap orang sama-sama memiliki 24jam yang sama dalam sehari, setiap orang berpijak pada bumi yang sama, namun mengapa kualitas kehidupan kita berbeda-beda? Maka ketika kita bertumbuh dalam waktu dan tempat yang sama, pasti akan ada teman kita yang mendapat hasil berbeda.

Misal saja di kelas, setiap guru memberi materi yang sama kepada semua muridnya, namun ternyata hasil ujian tiap siswa berbeda satu sama lain. Kalau kita mau berkata ada alasan kemampuanpun, ternyata tidak juga, ada yang kemampuannya rendah namun dapat nilai baik karena rajin, dan ada yang kemampuannya tinggi namun dapat nilai buruk karena malas.

Untuk itu saya ingin mencoba mengungkap apa alasan dibalik segala perbedaan hasil pada tiap pekerjaan yang sama tersebut.

Saya berangkat dari sebuah quote: Alasan bergerak lebih penting daripada bergerak itu sendiri. Karena alasan bergerak akan menjadi bahan bakar utama untuk selalu memberi tenaga pada “bergerak” tersebut, bahkan ketika “bergerak” itu sudah lelah. Atau alasan bergerak akan selalu mengingatkan ketika kita untuk kembali ke jalan yang benar ketika kita lupa  berbelok ke arah yang salah. Yak, mari coba kita tilik beberapa alasan yang menjadi penggerak dalam sebagian besar aktivitas kehidupan kita:

Ada yang pergi bekerja dengan alasan “daripada nganggur”

Memang menganggur merupakan sesuatu yag sangat tidak enak dalam hidup. Meski terkadang ada rasa malas yang menghinggapi kita, tapi tetap saja, bila kelamaan tidak ada kerjaan, pasti kita akan jenuh. Akhirnya kita akan mencari-cari kerjaan. Contoh paling gampang yang sering ditemui mahasiswa kalau liburan terus ikut menjadi panitia sebuah acara di kampunya. Beberapa mahasiswa yang ditanya alasan ikut kepanitiaan, maka dia akan menjawab, “daripada nganggur di rumah sebulan ga jelas, ga produktif, ya mendingan ikut acara kek gini. Paling nanti dapat temen, dapat pengalaman”. Alasan seperti ini memang tidak salah, tapi saya mencoba untuk mengajak kita semua melihat alasan yang lebih menusuk-nusuk hati yang sedang tetidur.

Ada pula yang berpadangan “Saya bekerja demi orang yang saya cintai”

Wih, ini lumayan lebih keren lah ya.Tak bisa diingkari, bapak ibu di rumah sering menjadi penyemangat saya belajar. Anak istri di rumah pun menjadi penyemangat bekerja seorang suami. Bahkan ketika kita sebenarnya enggan untuk jalan-jalan, tapi karena yang mengajak adalah sahabat yang kita cintai, entah kenapa kita jadi tergerak untuk jalan-jalan.

Cinta, itulah sebuah kata yang sering kita ungkapkan tapi sebenarnya tak pernah dapat kita lihat. Paling-paling yang terbayang hanyalah kuping gajah berwarna merah ditusuk panah. Namun itulah yang membedakan kita dengan hewan. Kita manusia diberi hati yang dapat mengalahkan segala logika, hati yang Allah anugerahkan supaya kita bisa merindu orang yang kita cinta, pun hati yang Allah karuniakan untuk mengkhawatirkan orang yang kita sayang. Kerinduan,  kekahwatiran, maupun kecintaan kita pada seseorang dapat menjadi penggerak yang hebat untuk melakukan perubahan besar. Tinggal kemana diarahkannya cinta itu, ke arah yang baik atau yang buruk.

Terakhir, saya ingin membagi sebuah alasan yang mampu mengobrak-ngabrik isi kepala dan hati saya sehingga saya harus bergerak.

Bahkan ada yang berfikir, “Saya harus meninggalkan sesuatu yang berarti di semesta untuk generasi sesudahku, sekaligus sebagai bekal matiku.”

Ya, saya ingin berangkat dari kata-kata sayyid quthub:

Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

Sebuah frasa yang benar-benar menampar saya ketika saya melewati hidup dengan kesia-siaan, dengan main-main belaka, dengan kesenangan-kesenagan semu, atau bahkan dengan kerusakan-kerusakan. Kemana sebenarnya arah hidup saya? Buat apa saya hidup? Untuk apa saya melakukan semua ini? Sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sajakah? Terus kalau sudah terpenuhi? Akhirnya saya menyadari, bahwa waktu yang terlewat tak bisa kembali. Maka saya mengajak diri saya sendiri dan teman-teman semua untuk mengisi waktu di sisa kehidupan ini dengan hal-hal besar.

Hal-hal besar itu, punya 3 ciri:

  1. Besar manfaatnya bagi orang lain
  2. Berat untuk dilakukan
  3. Tidak banyak yang bisa melakukannya.

Please, hidup yang cuma sekali ini, mari kita isi denga hal besar yang dengannya kita bisa menginspirasi putra bangsa yang lain. Atau setidaknya kita bisa meninggalkan sesuatu yang indah dikenang, meski kita telah tiada. Perhatikan Nabi Muhammad, perhatikan Jendaral Soedirman, perhatikan Sir Isaac Newton orang-orang besar lain yang telah memberi sumbangsih besar bagi dunia ini, bagi bangsanya, bagi masyarakatnya, atau minimal bagi keluarganya. Ketika mereka telah tiada, nama mereka masih harum untuk dibicarakan, bahkan untuk ditiru.

Janganlah kita menjadi orang yang kematian kita mendapat ucapan “alhamdulillah, akhirnya dia mati juga”. Jadilah orang yang kematian kita akan membuat sedih karena kita memang pantas untuk dicintai.

Dan terakhir, inilah inti dari hidup ini, ya pastikanlah segala yang kita lakukan adalah dalam rangka ibadah. Tak kah kaulihat:

Katakanlah: Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al An’aam : 162)

Dunia yang kita tempati sekarang tak kan selamanya kita tempati. Mau tidak mau, siap tidak siap, kita akan meninggalkannya menuju sebuah alam yang kekal. Yang bila kita mendapat nikmat surga, maka nikmat tersebut akan kekal, namun bila kita mendapat siksa neraka, maka siksa neraka tersebut juga akan kekal. Maka berlelah-lelahlah di dunia dalam mencari keridha-an Allah sehingga nikmat kekal yang kita terima, aamiin.

Sudah datangkah kepadamu berita (Tentang) hari pembalasan? (QS Al-Ghasiyah 88: 1)

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina.  Bekerja keras lagi kepayahan.  Memasuki api yang sangat panas (neraka), Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri.  Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. (QS Al-Ghasiyah 88:2-7)

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, Merasa senang Karena usahanya,  Dalam syurga yang tinggi,  Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan, Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya),  Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,  Dan permadani-permadani yang terhampar (QS Al-Ghasiyah 88: 8-16)