Yak tadi malam terjadi obrolan saya dengan teman lama, Thezard Franciscus TK’08, wakil komandan batalyon 2. Saya tergeletik ketika di jalan, obrolan kami kurang lebih seperti ini:

Mukti    : Habis lulus mau kemana nih? S2 atau kerja dulu?

Thezard: kerja dulu lah, nanti kalo ada kesempatan, bisa S2 ya diambil. Ya daripada nganggur gini kan? Emang harus ada yang dikerjakan loh, kalo hidup lo ga ada kerjaan pasti akan gampang bosen, jenuh, ya ga?

Mukti    : wih bener, kalo kita sibuk, berarti waktu kita ga sia-sia Zard, bener ga?

dalam hati saya jadi teringat film Rab ne bana del jodi yang baru saya tonton tadi malam, intinya adalah kalau nanti kita punya istri, jangan biarkan ia menjadi tidak berkembang dalam kebosanan karena mengurusi 3 tempat saja; sumur, dapur, kasur. Harus ada kesibukan yang dia lakukan setidaknya supaya tidak bosan, lebih baik lagi kalo sampai dia bisa berkembang, ya ga?

Hubungannya apa? Hubungannya adalah, saya dengan segala kesibukan yang ada, entah mengapa terasa terlalu berat, sehingga suka mengeluh dalam hati, seakan tidak sabar dengan keadaan yang ada, lantas tak mensyukuri kesibukan yang ada. Anehnya lagi, di sela-sela ketidakmampuan saya membagi waktu dengan baik karena alasan terlalu padatnya agenda, mengapa saya masih sempat buka situs lucu, sekedar tertawa-tawa? Yang ternyata tidak sebentar, atau sekedar membuka facebook yang selain ngomongin tugas kuliah dan amanah organisasi di grup. Yap, intinya di sela-sela keluhan akan padatnya agenda, saya masih suka menyia-nyiakan waktu.

Dan ketika tadi pagi saya membaca beberapa situs penggugah jiwa, saya sampai pada kesimpulan:

Kemalasan yang terlihat itu seperti puncak gunung es. Bila ingin mengubahnya, ubah jiwanya, karena ialah kontributor terbesar atas kemalasannya.

Ternyata, itu belum seberapa karena setelah saya mengulik lebih dalam lagi. Ada masalah dengan ruhiyah saya, memang kemarin bedrest seharian di kos, hanya ternyata terbengkalainya segala hal bukan apa-apa, melainkan memang sudah diatur oleh penguasa segala kejadian, dialah Allah. Allah yang menegur dengan halus akan kelalaian hamba-Nya bahwa belakangan ini tilawah qur’an tidak sebanyak biasanya, tahajud lewat, dluha ditunda-tunda, sodaqoh lalai. Padahal di kamar saya, terpampang jelas QS Ath-Thalaq (65) ayat 2: Barang siapa yang taqwa pada Allah niscaya baginya jalan keluar.

Udah ah, fokus taqwa aja, insyaallah akan mengurus semuanya.

Maaf kalau tulisan ini random sekali, karena saya memang hanya ngin menumpahkan apa yang ada di kepala saya sebelum menguap, dibuatnya juga hanya sebentar, tidak seperti biasanya. Semoga bermanfaat. Wassalam