Senin, 30 Juli 2012 adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Kenapa? Karena penceramah di masjid salman adalah Ustadz Aam Amiruddin. Beliau adalah salah satu ustadz faforit saya karena sepanjang sejarah saya solat traweh di Salman, beliau adalah salah satu dari beberapa orang yang bisa membuat pendengar ceramah itu tidak mengantuk dan mengikuti dengan seksama apa yang diceramhakan. Lucu dan berisi. Semoga saya bisa meneladani kebaikan-kebaikan beliau, tujuannya tak lain supaya Allah ridho. Eh, kenapa sih tujuannya supaya Allah ridho? Yuk kita simak isi ceramah beliau yang berhasil saya catat:

Pada suatu tausiyah, Rasulullah SAW berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”. Bahkan semua amal soleh yang kita lakukan digunakan untuk membayar nikmat mata yang sudah Allah anugerahkanpun tak cukup. Belum nikmat yang lain, tangan, ginjal, jantung, pankreas, empedu, kaki, telinga, habislah kita. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Misalkan saja surga dan neraka Allah hapuskan. Kalau kita beramal karena ingin surga dan dijauhkan dari neraka, ibadah kita pasti berhenti bukan? Tapi kalau kita beramal karena ingin mendapat rahmat Allah, maka mau surga ada atau tidak, tidak akan membuat kita sedikitpun mengurungkan semangat untuk beramal soleh.

Karena kalau Allah Yang Maha Kuasa saja sudah sayang, sudah merahmati kita, lantas apa lagi yang kita takuti? Allah berkuasa untuk mengabulkan setiap doa kita, Allah berkuasa untuk memberikan segala yang terbaik menurut-Nya. Dan kalau Allah sudah sayang, dunia akhirat insyallah dicukupi.

Nah, permasalahannya kan,

Apa yang harus kita lakukan untuk mendapat rahmat Allah?

1. Bingkai hidup dengan kekuatan doa.

Kita menjadi seperti sekarang ini, mahasiswa yang diterima di perguruan tingginya, pekerjaan yang kini didiapat, pasangan hidup yang kini mendampingi, ataupun rizki yang Allah anugerahkan, bukan karena kita yang begitu hebat mendapatkan itu semua. Namun karena doa orang-orang yang mendoakan kita.

Nah yang ini saya mengaku, serius saya ngaku. Bagaimana tidak, saya tidak sebegitu pintar, namun kenapa Allah menakdirkan masuk salah satu perguruan tinggi favorit di Bandung. Belum lagi ketika dahulu saya pernah kecelakaan yang menyebabkan saya tak sadarkan selama 16 hari. Meski ibu saya tak yakin saya masih bisa hidup, atau kalaupun hidup, mungkin saya akan hidup  tidak dengan normal, ibu saya sudah berusaha meridhoi segala hal yang terjadi.

Tak disangka, Allah mengizinkan saya hidup normal kembali, saya mendengar banyak cerita tentang bagaimana orang-orang di desa saya mendoakan saya, di pondok pesantren tempat menimba ilmu ketika SMP juga menggelar doa bersama untuk saya. Pun masjid dekat kos tempat saya menimba ilmu di SMA juga mengadakan doa khusus untuk saya. Belum lagi teman-teman yang banyak sekali mendoakan saya. Apalagi ibu saya yang tak melewati satu malampun tanpa solat tahajud dan solat hajat mendoakan untuk kesembuhan saya. Tak bisa dipungkiri, benarlah kata Ust Aam Amiruddin, bahwa doa itu mengubah yang tidak mungkin menurut kita menjadi mungkin.

2. Melakukan yang terbaik.

Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS Al Mulk 67:1-2)

Yakinlah bahwa hidup ini hanya sementara. Kematian itu suatu hal yang pasti akan kita alami, hanya waktunya saja yang Allah rahasiakan. Sesungguhnya kita sedang berpacu dengan sang waktu. Untuk itu, kita harus melakukan segalah hal dengan semaksimal mungkin. Jadilah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain, bukan menjadi orang yang paling banyak memanfaatkan orang lain. Mulai sekarang tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, dan prioritaskanlah mengerjakan hal-hal yang baik dan penting. Sukakah kita bila ketika meninggal, orang-orang berkata, “Alhamdulillah akhirnya dia meninggal juga”? Semoga Allah menjauhkan hal tersebut dari kita.

Panjang pendek umur biologis seorang itu urusan Allah, tapi panjang pendek umur yang sebenarnya, kita sendiri lah yang menentukan. Umur yang sebenarnya adalah umur yang digunakan untuk beramal soleh. “Kita bukan waktu yang kita miliki, tapi kita adalah amal yang kita lakukan”Ust Anis Matta. Maka tugas kita sebagai manusia adalah beramal semaksimal mungkin. Dimanapun wilayah kita, lakukan saja yang terbaik.  Kita semua tahu bahwa tugas kita sebagai manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil itu wiayah Allah. Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan. (QS At Taubah:105)

Semoga akhir hayat kita nanti menjadi cerita baik yang bisa menginspirasi banyak orang. “Barang siapa yang hidup untuk dirinya sendiri, maka dia akan mati sebelum kematiannya. Dan barang siapa yang hidup untuk orang lain, maka dia tak kan mati meski kini ia hanya tinggal tulang-belulang.” (Sayyid Quthub, kurang lebih seperti ini). Sehingga senantiasalah menambahkan doa nabi ibrahim yang Allah abadikan dalam al-qur’an berikut ini dalam tiap doa kita: Dan jadikanlah Aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) Kemudian, (QS Asy-Syu’ara26 : 84)

Kesimpulan

Bukan amal kita yang menyebabkan kita masuk surga, tapi karena rahmat Allah-lah. Oleh karenanya, selalu luruskan niat melakukan yang terbaik agar Allah merahmati, sayang, dan ridho tehadap kita 🙂

Wallahu a’lam bishowab

 

 

 

Iklan