Allah Maha Bijaksana. Bagaimana tidak. Dialah yang membuat setiap makhluknya berpasang-pasangan. Dialah yang memasang software ketertarikan kepada lawan jenis. Pertanyaannya adalah siapa sih yang sudah Allah takdirkan untuk menjadi pasangan kita?

Siapa?

Bagi kaum adam, kebanyakan akan berfikir, calon istriku nanti seperti apa ya? Harusnya sih cantik, solehah, pintar, manis, bisa ngurus suami dan lain-lain. Pun demikian, bagi kaum hawa, kebanyakan akan berfikir, calon suamiku nanti seperti apa ya? Harusnya sih soleh, tanggung jawab, duitnya banyak, ganteng, perhatian dan sebagainya. 

Bolehkah memiliki harapan pasangan terbaik seperti itu? Mengapa tidak? Yang jadi masalah adalah, apa syarat supaya kita mendapatkan pilihan yang terbaik itu?

Dengan bijaknya, Allah jawab dalam QS An-Nur ayat 26:

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula),

dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). 

Wah, sudah jelas sekali ini mah. Jadi kita tidak perlu pusing lagi siapa yang akan menjadi jodoh kita. Yang perlu kita lakukan adalah fokus memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik. Allah akan beri yang terbaik sesuai usaha kita memperbaiki diri.

Pantas?

Wahai laki-laki. Hingga saat ini, sudah pantaskah engkau diberi wanita yang solehah, menentramkan hati bila dilihat, taat dan patuh pada laki-laki, amanah menjaga harta dan kehormatan suami, menjadi utadzah bagi anak-anak kelak, lembut, penuh kasih sayang?Jangan bilang “iya” bila solat masih suka bolong-bolong, tidak tepat waktu, tidak tepat janji, baca Qur’an jarang, qiyamullayla sebulan sekali bahkan tidak pernah, masih suka maksiat, tidak pandai menjaga pandangan dan lain-lain.

Tanggung jawabmu sebagai suami itu berat. Bila engkau meninggal, kau akan ditanyai tentang 4 saudari perempuanmu, ibu, adik/kakak, istri, dan anak perempuanmu. Sudahkah bekal ilmu agamamu cukup? 

Wahai wanita. Hingga saat ini, sudah pantaskah engaku diberi laki-laki yang soleh, tinggi ilmu agamanya, luas wawasannya, bertanggung jawab, cerdas, perhatian, penyayang, lembut? Jangan bilang “iya” bila solat saja masih suka kau tunda-tunda, masih suka membicarakan kejelakan orang lain, tidak pandai menjaga waktu, solat malam tak pernah, sodaqoh, jarang, iri dengki masih bercokol di hati, tidak menjaga hijab dan lain-lain.

Menjadi istri itu tidak mudah. Harus melewati 9 bulan bersusah payah mengandung, dilanjutkan menyusu mengganti popoknya, belum lagi kau harus pandai menjaga harta dan rahasia suami, taat, dan yang tak kalah penting adalah engkau akan menjadi ustadzah bagi anakmu kelak. SUdah cukuplah ilmu agamamu?

Bila jawabannya sudah “iya”, maka percayalah Allah akan memberikan yang terbaik menurut Allah, bukan menurut kita. Allah itu memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Kenapa pemberian Allah itu pasti baik untuk kita? Karena Dialah Yang Maha Tahu akan diri kita, melebihi diri kita sendiri. Sedangkan keinginan kita itu cenderung kepada nafsu. Betul tidak?

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu (menurut Allah). Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu baik bagimu (menurut Allah). Dan Allah tahu dan kamu tidak tahu. (QS Al-Baqoroh 2:126)

Tapi kan sudah Allah takdirkan?

Bukannya jodoh itu udah ditentukan ya? Katanya bahkan sejak usia 4 bulan di kandungan, kok kita harus mencari lagi?

Jodoh itu seperti rizki. Siapa yang tahu besok akan mendapat uang atau malah kehilangan uang? Allah memerintahkan kita untuk berusaha mendapatkannya, masalah hasil biar Allah yang tentukan. Memang semua sudah ditakdirkan, tapi Allah RAHASIAKAN supaya kita BERUSAHA mencarinya. Bukankah tidak seru kalau kita sudah tahu jodoh kita dari lahir?

Seperti kematian saja, kapan kita mati itu sudah Allah tetapkan, bahkan sebelum kelahiran kita.
Tapi hidup ini menjadi tidak seru kalau kita sudah tahu sekarang. Nanti kita akan maksiat seumur hidup sampai 5 menit menjelang mati, baru deh bertaubat, ya kan? Oleh karena itu, Allah RAHASIAKAN itu supaya kita selalu BERUSAHA berbuat yang terbaik kalau-kalau kita meninggal di saat yang kita tidak pernah tahu itu.

Kesimpulan

Jadi, tugas kita sebagai manusia adalah berusaha sekeras mungkin dan semampu kita untuk berusaha memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik. Masalah hasilnya siapa jodoh kita, itu urusan Allah.

Saya sendiri belum bertemu dengan tulang rusuk saya, jadi seru kan, mikir, “mmmm, siapa ya tulang rusuk saya, si ini, si anu, si itu, atau si dia?” Ah, bukan itu yang penting, yang penting mah saya berusaha menjadi lelaki sesoleh mungkin, nanti Allah kasih yang terbaik, saya percaya aja deh ;)