Saya lahir 21 tahun yang lalu, tepatnya Jumat 31 Mei 1991. Banyak orang yang merayakan ulang tahun dengan berpesta pora. Namun entah mengapa saya bukan termasuk orang-orang itu. Bersyukur masih diberi kepercayaan oleh Allah tentu boleh, namun tak perlu hingga merayakan dengan bersuka ria. Bila kita semakin dewasa, seharusnya waktu yang berlalu justru dijadikan masa yang tepat untuk merenung. Izinkan saya belajar menjadi dewasa dengan menumpahkan renungan saya:

Alhamdulillah, Allah masih mempercayakan umur ini kepada hamba-Nya yang masih berlumur dosa karena banyak pengkhiaatan pada-Nya. Ampun Ya Allah…

Bertambahnya umur tak berarti makin bertambahnya usia kita.
Bertambahnya umur berarti ajal kita semakin dekat.

Demi Allah,
Kita tidak akan pernah tau kapan kita meninggal.
Kita tidak akan pernah tau dimana kita meninggal.
Kita tidak akan pernah tau bagaimana kita meninggal.

“kapan” dan “dimana” meninggal adalah rahasia Allah yang tak kan 1 orang pun tahu dan mengusahakannya, bisa jadi kita mati 1 tahun lagi, 1 bulan lagi, 1minggu lagi, atau 1 hari lagi.

Tapi “bagaimana” kita meninggal, ini masih bisa kita usahakan dengan senantiasa memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik dalam mengabdi kepada-Nya supaya ketika bila tiba-tiba kita harus meninggal, kita meninggal dalam kondisi terbaik, husnul-khatimah. Amin.

Semoga, Allah senantiasa menjaga kelurusan niat kita bahwa segala yang kita lakukan tak lain tujuannya hanyalah untuk mengabdi kepada-Nya.
Amin.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya belaka” (QS Ali ‘Imran (3) : 105)