Dibalik setiap kenikmatan yang Allah titipkan pada kita, pasti ada konsekuensi. Bila Allah menitipkan kenikmatan harta, Allah meminta kita untuk mensedekahkan sebagiannya. Jika Allah menitipkan kenikmatan ilmu, Allah meminta kita untuk membaginya. Ketika Allah menitipkan kenikmatan iman, Allah meminta kita untuk tidak merasakan kenikmatan ini sendiri, kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan kepada orang lain akan indahnya iman, indahnya Islam. Ini semua membuktikan bahwa islam bukanlah agama egois, agama yang loe-loe, gue-gue, atau loe, gue, end. Islam bukanlah sebuah agama yang meminta pemeluknya untuk berdiam diri di masjid saja, menikmati kekhusyukan ibadah kepada Tuhannya saja, namun islam juga sebuah agama komunal, agama sosial, yang menyuruh pemeluknya juga peduli kepada orang lain.

Pernah dalam suatu hadits, diceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, ada seorang yang  setiap hari beribadah kepada Allah, dan hendak dimasukkan ke dalam surga karena timbangan kebaikannya lebih berat dari timbangan kebaikannya. Beberapa saat kemudian, tibalah giliran tetangganya untuk dihisan. Lantas dia digiring ke neraka karena timbangan keburukannya lebih berat dari timbangan kebaikannya. Maka orang ini protes kepada malaikat, “Wahai malaikat, ketahauilah, aku melakukan semua keburukan ini karena tetanggaku yang baru saja dihisab dan hendak dimasukkan surga itu hanya beribadah untuk dirinya sendiri, dia tak peduli pada lingkungannya yang rusak dan berbuat kerusakan. Aku menuntut agar ia juga dimasukkan juga ke dalam neraka karena aku masuk neraka karena ia pula.” Maka orang pertama yang hendak dimasukkan surga segera ditarik dari surga dan dilemparkan ke neraka bersama tetangganya.

Uraian hadits ini menjelaskan pada kita semua bahwa kita tidak boleh soleh sendiri, kita harus saling mengingatkan. Keburukan-keburukan yang terjadi di sekitar kita bukan hanya karena memang ada orang-orang yang hendak merusak masyarakat, entah dengan konspirasi, entah pula dengan membuat tempat-tempat maksiat merebak, tapi juga karena kita tidak berusaha memperbaikinya. Oleh karenanya, saling mengingatkan menjadi sebuah hal yang niscaya harus ada di sekitar kita, karena secerdas apapun seorang manusia, sehebat apapun seorang manusia dalam melawan godaan setan, akan tiba pula saatnya kita berkata “manusia adalah tempat salah dan dosa”. Namun hal ini tidak menjadi pembenaran atas kesalahan dan kealpaan yang telah kita lakukan. Hal ini cukup kita sadari sebagai pemacu semangat agar kita saling mengingatkan.

Kali ini, sedikit nasehat untuk saling mengingatkan kita, mengingatkan penulis dan pembaca yang budiman. Nasehat kali ini adalah mengenai orang-orang munafik.

Orang munafik berbeda dengan orang kafir. Orang kafir memang telah mengaku bahwa mereka musuh Allah, dan tidak mau berislam sehingga kita bisa menentukan sikap yang tepat untuk menghadapi mereka agar iman kita tidak goyah. Namun orang munafik mengaku berislam di mulut, namun ternyata hati mereka mengingkari. Mereka masuk ke dalam jamaah orang-orang mukmin, dipercaya sebagai sahabat seperjuangan untuk menegakkan islam, namun ternyata hati mereka berkata lain. Orang-orang munafik ini menjadi musuh dalam selimut.

Rasulullah menjelaskan ciri-ciri orang munafik:

  1. Bila berbicara selalu bohong.
    Orang seperti ini tidak bisa dipercayai dalam setiap perkataan yang diucapkannya. Bisa jadi apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan hatinya.
  2. Bila berjanji, tidak ditepati
    Orang munafik sulit untuk dipercayai perkataan dan perbuatannya
  3. Bila diberi kepercayaan selalu berkhianat.
    Orang munafik sulit diberikan kepercayaan. Setiap kali kepercayaan yang diberikan tidak dapat dia jaga dengan baik.

Semoga kita semua Allah jauhkan dari sifat-sifat ini.

Mungkin kita sudah bisa menjauhi ketiga sifat di atas, namun Al-Qur’an membahas lebih banyak tentang orang munafik lewat surat At-Taubah, di antaranya pada ayat 42:

“ Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, Pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” mereka membinasakan diri mereka sendiri[644] dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (QS At-Taubah :42)”

Ayat ini menceritakan bagaimana lemahnya iman mereka, sehingga meski telah datang janji Allah akan surga bila ikut berperang, mereka pun memiliki banyak alasan.

Terkadang kita jumawa dengan mengatakan bahwa tak mungkin diri ini termasuk orang yang munafik, jarang kita berdusta, mengingkari janji dan berkhianat. Namun ketika ada panggilan ibadah, menjauhi maksiat, atau berdakwah, pernahkah yang terasa pada diri kita justru keengganan? Allah sedang menguji apakah kita mau berjuang beribadah, menjauhi maksiat, dan berdakwah dengan sungguh, saat enak dan saat tidak enak. Jangan-jangan Allah melihat kita sebagai orang munafik karena ternyata kita hanya mau mengikuti bagian enaknya saja tanpa mau menjalankan bagian tidak enaknya.  Ada nasehat bijak yang mengatakan:

Barang siapa ada kemauan, pasti ada jalan.

Barang siapa tak ada kemauan, pasti ada alasan.

Hal ini membuat diri ini merenung berkali-kali, ketika ada panggilan adzan, terkadang diri ini tak segera beranjak untuk menunaikan solat, atau ketika ada kesempatan bermaksiat, terkadang diri ini enggan menjauhi namun malah menikmati, atau ketika ada panggilan dakwah, kemana saya? Apakah saya menjadi orang yang segera siap bergerak, atau mencari-cari alasan?

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat munafik dan meneguhkan iman kita. Semoga tulisan ini menjadi semacam pengingat bagi kita agar dapat tetap bisa menjaga niat dalam menjalani hidup yang Allah amanahkan. Semoga ketika kita meninggal, Allah menyempatkan kita untuk mengucapka “La Ilaha Illallah”.

Saya tutup tulisan ini dengan apa yang Allah firmankan untuk meluruskan niat kita:

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. (QS At-Taubah : 41)