Ada saatnya kita berdakwah secara individu sehingga membutuhkan kompetensi individu, ada pula saatnya kita berdakwah secara bersama, atau bisa kita sebut berjamaah. Dakwah individu akan saya bahas lain waktu insyaallah, kali ini saya ingin membahas dakwah berjamaah.

Latar Belakang

Surat Ali ‘Imran (102-104)

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (102)

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu agar mendapat petunjuk. (103)

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (104)

Melalui ayat-ayat ini, Allah hendak memberi tahu kita beberapa poin penting yang menjadi garis merah dalam berislam. Poin-poin penting tersebut adalah:

1. Bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa

2. Berpegang teguh kepada tali (agama) Allah

3 Tidak bercerai-berai

4. Dengan karunia Allah, kamu disatukan

5. Terakhir, Menyerulah kepada kebajikan

Intinya kita harus dekat dengan Allah, lalu bersama-sama menyeru kebajikan (Baca=berdakwah)

Bergerak bersama, berarti kita berbicara tentang sekumpulan manusia. Sekumpulan manusia mau tidak mau harus memiliki pemimpin sehingga semua bisa bergerak selaras. Lalu dalam memimpin gerakan yang menuju ke arah kebaikan maka tak sembarang pemimpin bisa menggerakkan yang dipimpinnya untukmau bergerak dalam kebajikan. Pun para pengikut memiliki hal-hal yang perlu diketahui agar tegaknya Agama Allah bisa lebih dekat kepada keniscayaan.

Leader and Follower

Sebagaimana dibahas sebelumnya, masalah bergerak bersama tak akan bisa lepas dari pemimpin dan pengikut (qiyadah dan jundi)

Pemimpin (Qiyadah) itu memiliki empat fungsi:

1. Ayah yang memiliki ikatan batin (shuolder to cry on)

2. Guru tempat bertanya tentang ilmu

3. Syaikh yang selalu berusaha mensucikan jiwa

4. Komandan yang siap putuskan kebijakan

Pengikut (Jundi) memiliki dua fungsi:

1. Taat dan tsiqoh (percaya kepada pemimpin)

2. Amanah

The Secret behind Ukhuwah

Allah Yang Maha Mulia menginginkan bahwa dalam amal jam’i harus iqomatuddin, look at this:

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. {Asy-Syuro(42):38}

Allah mengapit Musyawarah setelah kata solat dan sebelum kata berinfak. Solat berarti ibadah pribadi kepada Allah, dan infak berarti beribadah dengan berhubungan dengan sesama.  Karena sungguh Allah ingin memastikan bahwa dalam amal jam’i harus ada iqomatuddin (menegakkan agama).

Lebih baik tidak ikut jamaah tapi iqomatuddin daripada ikut jamaah tapi tidak iqomatuddin. Hal ini terjadi karena iqomatuddin merupakan sendi utama dalam jamaah, sedangkan kelompok yang tidak iqomatuddin hanya menjadi kelompok biasa, bukan jamaah.

Sehingga ketika kita sudah iqomatuddin, maka kita sudah berjamaah meski tidak dalam kelompok. Namun tak ada salahnya mencari lingkungan yang kondusif untuk mengistiqomahkan iqomatuddin kita.

Berbicara masalah ukhuwah, sepertinya tidak pas bila kita tidak berbicara tentang keikhlasan. Ikhlas dan tulus adalah dua hal yang berbeda. Tulus berarti melakukan sesuatu tanpa imbalan, sedangkan ikhlas berarti melakukan sesuatu karena Allah. Sehingga ketaatan dan ketsiqohan jundi itu adalah suatu hal yang niscaya terjadi secara otomatis, bukan direkayasa. Bila ikhuwah bisa direkayasa, mungkin nanti akan ada progam studi ukhuwah engioneering ^^.

Ukhuwah itu percaya pada saudara. Ukhuwah itu berasal dari hati. Allah mengilhamkan ukhuwah kepada siapa yang ia kehendaki. Mari kita selalu mengingatkan diri dan sesama agar Allah Yang Maha Menggenggam hati setiap manusia mau membukakan hati kita untuk bisa merasakan indahnya kebersamaan dalam ukhuwah, lalu kita siap berjuang bersama menegakkan agama Allah, meski banyak duri dan ranjau yang menunggu kita di jalan menuju surga Allah. Wallahu a’lam

Iklan