Apa pandanganmu bila melihat keempat kuadran ini?

Perhatikan, sumbu-x itu kebaikan, sumbu-y itu kepentingan. “Penting” disini adalah ketika orang tersebut mengurus hajat hidup orang banyak. Semakin baik seseorang, maka ia akan semakin ke kanan, setidaknya berada di sumbu-x positif. Semakin penting penting seseorang, maka ia akan semakin ke atas, setidaknya berada di sumbu-y positif.

Dan disana kita dapat melihat ada 4 kuadran:

Kuadran 1. Orang baik penting

Kuadran 2. Orang jahat penting

Kuadran 3. Orang jahat tidak penting

Kuadran 4. Orang baik tidak penting

Menurutmu mana kriteria ideal yang sebaiknya ada banyak di dunia ini? Saya yakin kita akan serempak menjawab kuadran 1. Orang baik dan penting. Namun bila ditanya mana kriteria yang seharusnya dihabisi, atau jangan ada? Awalnya saya menjawab kuadran 3, sudah jahat, tidak penting lagi, kasihan amat. Tapi sesungguhnya kita sedang tertipu bila kita menjawab kuadran 3, karena yang seharusnya diberangus adalah justru kuadran 2, orang jahat dan penting.

Suara rakyat :

Lihatlah bangsa Indonesia saat ini, bangsa ini terlau banyak orang yang berada di kuadran 2. Berbagai macam kasus muncul di media. Mulai dari DPR yang menghambur-hamburkan uang rakyat untuk jalan-jalan ke luar negeri, seorang presiden negara yang tampil dalam permasalahan partai padahal masih ada ketua partai, atau seorang Nazarudiin yang sampai dalam penulisan ini masih buron, belum lagi kasus bank century yang saat ini masih tidak jelas statusnya, kasus lumpur lapindo yang sudah 5 tahun tidak jelas masalah ganti ruginya, dan masih terlalu banyak kasus bangsa ini yang bila saya tulis, mungkin bisa jadi buku setebal 5 cm.

Bangsa ini butuh orang yang tulus berada di kuadran 1, orang yang benar-benar baik dan pentng dan menggunakan jabatannya tulus untuk mengurus kepentingan orang banyak. Bu Hj. Marwah Daud Ibrahim, Ph.D, Founder training MHMMD/ Presidium ICMI saat berbicara “Prospek / masa depan Indonesia di tengah Kehidupan Global” dalam acaraLaporan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Nasional mengatakan bahwa bangsa ini mengalami krisis kepemimpinan, kepemimpinan yang sesungguhnya lebih banyak butuh memberikan keteladanan dibanding kata-kata manis. Bangsa ini telah sampai pada titik krisis keteladanan. Terlalu sedikit pemimpin yang dapat diteladani? Terlalu haus negeri ini akan pemimpin yang tidak hanya menjaga citra.

Secercah harapan:

Dalam morat-maritnya bangsa ini menghadapi masalah-masalahnya, alhamdulilllah masih ada sedikit orang-orang yang ada di kuadran 1, para pemimpin yang benar-benar dicintai rakyatnya dengan tulus. Sebutlah Joko Widodo, walikota Solo yang terpilih untuk kedua kalinya sehingga menjabat untuk periode 2005-2015, beliau dapat memindahkan PKL yang seharusnya menjadi tempat hijau tanpa keributan seperti di kota-kota lain, bahkan diceritakan PKL di lokasi yang baru dapat beromzet hingga 300 juta perbulan, “itu mah namanya bukan PKL lagi”, kata beliau sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Beliau adalah sosok yang menjadi pemimpin karena dicintai rakyatnya. Beliau sebenarnya sudah tidak mau maju menjadi walikota saat habis kepengurusan beliau di 5 tahun pertama. Namun berbagai desakan dan permintaan membuat beliau maju lagi dan menang telak.  Dan beritanya sampai sekarang beliau belum mengambil gaji beliau sejak menjabat karena beliau sudah kaya sebelum menjadi walikota. Pengusaha mebel ini adalah contoh bagaimana seharusnya pemimpin seharusnya, kaya dulu baru memimpin, supaya tidak korup. Beda dengan kebanyakan pemimpin sekarang, kayanya karena memimpin, jadi bupati, atau walikota, bagaimana orang-orang tidak curiga bila itu bukan hasil korup?

Dalam hidup yang sementara ini mau jadi yang mana?

Teman, hidup ini hanya sementara. Apakah kita hendak menyia-nyiakan waktu yang ada, sementara kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita? Bila saya boleh mengutip kata-kata Anis Matta dalam bukunya “Arsitek Peradaban”, beliau berkata:

Kita bukanlah waktu yang kita miliki, tapi kita adalah amal yang kita lakukan.

Saya terjemahkan untuk semua orang, tanpa terbatas pada agama saya, maka akan sedikit saya ubah menjadi:

Kita bukan waktu yang kita miliki,

Tapi kita adalah karya yang kita buat

Cara paling mudah adalah kita memulai segala rencana hidup kita dari akhir, sekarang bayangkan tiba-tiba anda mati, lalu apa yang akan orang katakan? Apakah orang akan sedih dengan kematian kita atau justru sedih? Lalu bila kita ingin dikenang sebagai orang yang baik dalam hidupnya, segera desain hidup kita! Lalu mohon petunjuk dari Sang Maha Mengetahui yang bahkan lebih mengetahui kebaikan untuk diri kita dibanding diri kita sendiri.

Kata orang Jawa: “Ndang!” artinya “Cepat!” jangan tunda lagi rencanakan hidup yang semantara ini dengan sebaik-baiknya. Karena pengalaman mengatakan “Gagal Merencakan = Merencanakan Kegagalan”.

Mari buat hidup kita lebih berarti, tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk orang lain.