Curhat:

Termenung diri ini mencoba meraba-raba saat-saat apa saja saya banyak disanjung orang, saat-saat apa saja saya dijauhi orang. Akhirnya memang benar, ketika saya hanya berorientasi pada berkontribusi, maka sanjungan, pujian, kenalanpun akan datang dengan sendirinya, justru orang akan muak dengan orang yang cari muka.

PROKM 2009 menjadi titik balik perubahan itu. Awalnya saya mengikuti diklat panitia lapangan, disana saya hanya menjadi manusia biasa, menjadi manusia yang seperti dikatakan hadits:

Manusia itu bagai rombongan seratus onta, hampir-hampir tak kau temukan ada yang layak di antara mereka untuk menjadi penggembala.

Saya menjadi onta itu, kawan. Memikirkan diri sendiri, lalu mencoba berkenalan dengan sebanyak-banyak teman dan berhasil mendapat segelintir teman.

Lalu tiba saat ada diklat yang dinamakan diklat untuk seleksi komandan batalyon, saat dimana saya harus memaksa diri saya untuk menjadi lebih disiplin, lalu diajarkan pula supaya tidak hanya berfikir bagi diri sendiri. Pada diklat ini, sangat ditekankan bahwa PROKM tidak butuh orang biasa, PROKM butuh orang yang mau belajar dan berkontribusi lebih. Akhirnya, saya berusaha untuk memberikan kontribusi maksimal saya, tanpa saya memikirkan dilihat orang atau tidak.

Dil luar dugaan, ketika selesai PROKM, tiba-tiba saja banyak orang yang mengenal saya, meski saya sendiri tidak kenal orang-orang tersebut, banyak orang yang menyapa saya di jalan. Bahkan berkata, “Hai, kamu Mukti yang Wakil Komandan Batalyon 1 itu kan?”, he? Dari mana orang tau? Padahal saya tidak promosi waktu PROKM. Ternyata setelah saya merenung, saya menjadi teringat kata-kata salah seorang danlap PROKM 2009 waktu itu, Filman Ferdian IF’07. Beliau berkata:

Berbagai alasan menyertai orang-orang untuk ikut di PROKM ini, ada yang beralasan untuk mencari pengalaman, ada yang beralasan untuk mencari teman baru, ada pula yang beralasan untuk mengisi waktu libur. Semua alasan itu tidak salah, hanya sayang saja jika waktu dua bulan ini dilewati hanya untuk alasan itu. Sekarang coba kau luruskan niatmu, bahwa kau ikut PROKM adalah hanya untuk berkontribusi. Lalu saksikanlah, pengalaman dan teman yang menjadi efek domino akan mendatangimu.

Benar juga, saat itu saya belajar sebuah hal besar. Saat itu saya menjadi seorang pemimpin yang mampu mengorganisir waktu dengan baik, saya mampu mempengaruhi orang dengan baik, saat itu saya mampu membawa teman-teman lain untuk mencapai tujuan bersama.

Namun ketika saat-saat itu berlalu, saya kembali pada diri saya yang dulu, diri saya yang hanya memikirkan diri saya sendiri. Lalu perlahan-lahan, orang mulai melupakan saya lagi, sudah tak banyak lagi orang-orang yang menyapa saya di jalan. Kembali saya merenung dan benar, kini saya hidup untuk diri saya sendiri. Seperti roda, dulu di atas, kini di bawah, siap untuk kembali ke atas?

Ku jawab dengan suara lantang “ SIAP !!!!! “

Lalu saya teringat kata-kata Sayyid Quthub yang berbunyi:

Siapa yang hidup bagi dirinya sendiri, akan hidup sebagai manusia kecil dan mati sebagai manusia kecil.

Siapa yang hidup bagi orang lain, hidup sebagai manusia besar dan takkan mati selamanya.