Iwan Setyawan, penuli buku 9 Summers, 10 Autumns. Dari kota apel ke the big apel.

adalah pemuda yang berasal dari dari kota penghasil apel, yaitu Batu Malang dan melewati serentetan kisah hidup menuju kota The Big Apel, New York dan menjalani kisah hidupnya selama 9 musim panas dan 10 musim gugur.

Dia membuat tulisan yang sangat inspiring, membuka mata dan menyentuh hati.

Ada banyak nilai yang terkandung dari dalam buku atau novel yang ia buat. Novel yang secara gagasan menarik tapi juga cara mengekspresikan juga sangat menyentuh dan begitu dekat jarak keseharian kita di Indonesia. Selamat kepada Mas Iwan yang meluncurkan buku pertamanya dan langsung best seller.

Ada beberapa hal yang menarik untuk ditilik, yakni:

1. Pendidikan

2. Orang Tua

3.Iwan orang Indonesia dan dia akan selalu tetap menjadi orang Indonesia.

Mari kita bahas hal menarik ini satu persatu

1. Pendidikan

Iwan adalah contoh bahwa pendidikan bukan saja mencerdaskan, bukan saja membuat seseorang menjadi terdidik, tetapi pendidikan juga menjadi eskalator yang mengangkat derajat sosial ekonomi, dia membukakan pintu-pintu baru untuk meraih kemajuan. Pendidikan adalah kunci dibalik keberhasilan Iwan. Ayah Iwan hanya seorang supir angkot, tapi Iwan bisa menjadi direktur perusahaan paling terkemuka di Amerika, AC Nielsen. Hal ini tidak mungkin diraihnya dengan mudah. Kisah Iwan ini juga membuktikan tentang efek pendidikan.

Oleh karena itu, ada sedikit pesan bagi kita semua, yakni berikanlah akses pendidikan berkualitas pada republik ini

Republik ini menjajikan 4 hal:

Melindungi
Mensejahterakan
Mencerdaskan
Memungkinkan untuk berpartisipasi di dunia

Seorang seperti Iwan yang tumbuh di Batu, Malang, Indonesia, mendapatkan bahwa semua janji repubik ini terbayar lunas. Iwan bukan hanya terlindungi, tersejahterakan, tercedaskan, tapi juga dapat berpartisipasi pada kemajuan dunia.

Apa kuncinya?

Keterdidikan.

Oleh karena itu, kita bukan hanya penting mendorong munculnya kesadaran pentingnya pendidikan, tapi yang tidak kalah penting adalah kesadaran membuka akses pada siapa saja.

Kita harus menyadari bahwa pendidikan adalah alat rekayasa sosial, alat perubahan struktural masyarakat. Siapa yang bisa mendapatkan pendidikan berkualitas hari ini, maka bisa kita proyeksikan pada periode-periode berikutnya, mereka akan memiliki peran dan posisi yang lebih baik dalam masyarakat.

Apa yang diceritakan oleh Iwan novel tersebut adalah bukti akan hal-hal yang telah disebutkan. Iwan menjalani semua yang ia ceritakan dalam bukunya. Dia bukan hanya menceritakan bagaimana jika pendidikan bisa diakses siapa saja, tapi dia juga secara jelas menunjukkan “karena saya mendapatkan akses itu”, dan akses itu dijalankan dengan baik, dengan kerja super keras maka ia bisa meraih mimpi-mimpi besarnya itu. Tetapi perlu ditekankan lagi bahwa modal utamanya adalah dibukakan pintu untuk mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas.

Ini yang menurut saya luar biasa, karena impak yang mungkin akan muncul besar dari karya iwan, bukan semata-mata kita tersentuh menyaksikan seseorang yang dari strata sosial ekonomi yang berat bisa suatu saat naik menjadi seorang direktur, tapi kita juga ditunjukan pada kenyataan, bisakah kita menghasilkan jutaan Iwan setyawan? Bisa kah pendidikan kita bisa menghasilkan pendidikan seperti itu? Jika pendidikan kita bisa melakukan seperti itu, maka republik ini bisa berkembang lebih cepat. Justru inilah tantangan kita. Apakah kita Bisa melakukan hal tersebut? Saya rasa bisa kita bisa melakukannya.

Dengan pengalaman, Iwan membuat tulisan yang bagus. Tulisan yang tidak hanya ditulis dengan akal atau pikiran rasional, tapi juga dengan hati yang ia tunjukkan dengan ekspresi-ekspresi yang memuat rasa-rasa emosional, dan hal ini yang membuat karya ini lebih mirip fakta perjalanan hidup Iwan. Tentu diharapkan, dari karya ini, muncul kesadaran:

“mari kita siapakan anak-anak kita maju dan perkembang lewat pendidikan”.

2. Peran Orang Tua

Ada yang menarik dari buku ini, yaitu orang tua. Kita sering menganggap setiap orang tua bisa mendidik dan mengarahkan, tapi sebenarnya belum tentu terjadi, orang tua belum tentu bisa menyiapkan. Dan di antara pendidik, sekolah, rumah, dan yang paling tidak disiapkan untuk mendidik adalah orang tua.

Dalam karya iwan, orang tuanya termasuk orang tua yang memiliki visi ke depan. Bukan hanya ibunya yang pandai mengatur keuangan rumah tangga dengan keadaan ayah Iwan hanya bekerja sebagai supir angkot dan Iwan merupakan 5 bersaudara, namun juga orang tua mereka sadar anak-anak mereka akan hidup di masa depan. Hal ini membuat makanan yang baik, gizi yang sehat dan tata krama yang dilakukan orang tua merupakan bagian dari menyiapkan bagian kehidupan kehidupan.

Orang tua Iwan tidak hanya bersyukur, tetapi orang tua Iwan juga dapat dijadikan contoh orang tua di Indonesia. Dan ini bisa menginspirasi begitu banyak orang tua di Indonesia. Keberhasilan seseorang tidak hanya usahanya, akses pendidikan berkualitas, tetapi juga karena pendidikan dalam rumah yang luar biasa.

Ini juga pelajaran lain yang mungkin bisa kita raih dari Iwan, yaitu kemauan untuk mau berjuang untuk lebih baik, untuk lebih maju. Luar biasa. Iwan dan keluarganya memiliki spirit untuk lebih baik, lebih maju, sehingga segala hal dilakukan untuk mewujudkan cita-citanya.

3. Iwan orang Indonesia dan dia akan selalu tetap menjadi orang Indonesia.

Ini adalah bagian yang sangat menarik. Kita menyaksikan bagaimana seorang anak muda dari kota batu yang dingin, sampai akhirnya kuliah di bogor, lalu bekerja Jakarta hingga bekerja di AC Nielsen di new York. Tapi hal yang selalu membuat orang berkata “are you crazy?”, adalah ia kembali, ya ia kembali tidak hanya sebagai orang Indonesia yang pernah di hidup di luar dan kembali ke negerinya, tapi ia kembali dengan pengalaman, pengetahuan yang sagat terbarukan dan pulang dan kemampuan bahasa dan modal tentunya.

Ini adalah contoh bagi anak Indonesia. Ini adalah contoh bagaimana dengan perjuangan keras, seorang anak pergi ke luar negri, ambil sebanyak-banyaknya manfaat, dan pada waktu yang tepat kembali ke republik ini untuk memajukan negri ini.

Mudah-mudahan novel ini mengispirasi makin banyaknya anak-anak Indonesia seperti Iwan.

Setelah mendengarkan peluncuran novel ini oleh Anies Baswedan