Bacalah sampai habis, maka kau akan tahu bahwa bukan cinta yang membuatmu galau, karena cinta merupakan fitrah manusia.

Kali ini saya bukan akan membahas cinta yang seperti di lagu-lagu zaman sekarang.
Tapi saya akan mengaitkan hakekat cinta dengan tujuan hidup kita sesungguhnya.

Cinta itu bila benar-benar dirasakan akan menimbulkan tiga hal pada diri orang yang sedang merasakan cinta tersebut.Tiga hal tersebut adalah :
1. Cinta itu menimbulkan keindahan
2. Cinta itu membuat kita semangat
3. Cinta itu membutuhkan pengorbanan

Mari kita bahas satu demi satu:
1. Cinta itu menimbulkan keindahan
Ketika seorang laki-laki seorang wanita, maka wanita itu akan terlihat indah, dari wajahnya, senyumnya, cara berjalannya, bahkan suaranya yang mungkin cempreng pun akan terasa indah.

Bisa jadi karena indah jadi cinta.
Bisa pula karena cinta segalanya jadi indah.

Nah yang sekarang terjadi adalah, apakah kita sudah mencintai Allah, Zat yang menciptakan kita, tiap hari memberi rizki kita, entah kita sedang dekat dengan-Nya maupun sedang maksiat kepada-Nya, tetap saja dia memberi rizki kepada kita, dengan lembutnya, bahkan sampai kita tak menyadarinya, entah kita bersyukur atau sekedar berterima kasih pada-Nya atau tidak pun, tetap Dia mencurahkan kasih sayang-Nya pada kita.

Seharusnya bila kita sudah mencintai Allah, yang katanya tiap hari kita mengucapkan “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” , maka apapun yang Allah perintahkan harusnya terasa indah.

Perintah solat akan terasa indah, karena Allah yang kita cintai yang menyuruhnya.
Bangun malam untuk bermunajad pun akan terasa indah, karena memang Allah yang kita cintai telah menunggu.
Mengeluarkan uang untuk sodaqoh pun akan terasa indah, karena Allah yang kita cintai yang memintanya.

Bahkan Allah pun akan berjanji membalasnya sepuluh kali lipat, atau bahkan bisa 700 kali lipat.
Apalagi di akahir Allah akan menjanjikan surga, masihkah perintah Allah belum terasa indah?
Tak pernah Allah menyuruh kepada keburukan, Maha Suci Allah atas segala prasangka buruk hambanya yang masih belum bisa mencintai-Nya dengan tulus, meski kasih sayang-Nya pada kita tak pernah ada putusnya.
2. Cinta itu membuat kita semangat
Ibarat kalau kita melihat seorang laki-laki yang sedang di mabuk asmara, maka apapun yang diminta oleh sang pujaan hati pasti akan dilakukan.
Ibarat kalau lah sang wanita meminta sang wanita berada di puncak gunung, dan si laki-laki di pinggir pantai dan sang pujaan hati memanggil, maka tak akan peduli lagi, seberapa jauh jarak ya g ditempuh, semangat untuk menggapai gadis yang dicinta pasti akan membara dan memacu adrenalinnya untuk sampai kepada yang dipuja.

Nah, sekarang ketika Zat yang seharusnya kita cintai, dengan segala kuasa-Nya bila kita meminta apapun niscaya akan dikabulkan, yang senantiasa mencurahkan rahmatnya di bumi, memanggil kita apakah kita akan bersemangat untuk mengejar cinta-Nya?

Ibarat kata, kalau kita sudah cinta kepada Allah, maka jangankan solat lima waktu, solat tahajud sepanjang malampun pasti akan dilakasanakan, karena semangat yang membara. Nabi dan para sahabat dapat dijadikan contoh.
Ibarat kalau kita sedang lemas, capek, malas, tiba-tiba Allah ada seruan “Hayya ‘alal-falah(mari menuju kemenagan)” maka karena yang memanggil adalah Zat yang kita cintai, maka tak ada alasan kita tak bersemangat untuk menyambut kemenagan tersebut.

Nah, pertanyaan kita sekarang, sudahkah kita timbul semangat, kita Allah, Zat yang Maha Agung, Tuhan kita, Yang seharusnya kita cintai melebihi segala-Nya memanggil kita?

3. Cinta itu membutuhkan pengorbanan
Ini nih, bagian yang bila sekilas dibaca adalah bagian yang tidak mengenakkan dari “bercinta”.
Namun, ini bisa menjadi ukuran cinta kita pada sesuatu, apakah kita sudah merasa pengorbanan itu sesuatu yang wajar, bahkan hampir tak kita rasakan?

Tapi sungguh, bila kita ada di samping seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta, maka kita akan sering mendengar sebuah puisiyang kurang lebih isinya seperti ini, (saya sendiri tak pandai berpuisi)
Sebut namaku,
aku akan datang,
walaupun gugusan gunung menghadang, pasti akan kutaklukan,
kalaulah luasnya samudra menghalangi, pasti akan kusebrangi,
demi engkau, pujaan hatiku.
Tak peduli lagi seberapa berat rintangan yang menantang.
Ku akan selalu ada untukmu
Itu hanya kepada wanita, lalu bagaimana pada Allah?

QS Ali ‘imron (3) : 14
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Mau surga?

Kalaulah mau, mari kita ukur kadar kecintaan kita kepada Allah, cukup mudah. Hanya dengan ketika Allah memanggil kita solat saja, apakah solat itu jadi terasa indah?
Apakah timbul semangat dalam diri kita untuk melaksanakan solat?
Apakah kita mau berkorban untuk menuju solat tersebut?
Ketika kita dekat dengan Allah, maka Allah akan mencahayai hati kita dengan Nur-Nya sehingga jalan-jalan mana yang seharusnya kita tempuh yang mengundang kebaikan akan terlihat, namun jika tidak, maka jalan yang mungkin sudah di depan mata pun tak terlihat karena gelap, tanpa cahaya Allah.

Nabi Muhammad SAW, pernah bersabda:
Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan
Maka sungguh mudah bila kita ingin dapat mencintai Allah, tinggalkan saja kemaksiatan dan kerjakan kebaikan. Niscaya kita akan merasa ibadah kepada Allah itu indah, memberikan semangat dan pengorbananpun tak terasa memberatkan.
Yang terkadang disalahartikan oleh orang adalah membaca hadis di atas tidak sampai habis.
Iman itu bertambah dan berkurang, jadi wajarlah kalau sekarang ini lagi malas solat, nanti kalau sudah bertambah juga semangat lagi kok.
Nah, mari kita lengkapi hari-hari kita dengan iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Mari kita selalu menjaga iman kita agar selalu naik dengan mengerjakan segala ketaatan pada-Nya dan jangan pernah coba-coba melakukan kemaksiatan kepada-Nya.

Rasakan indahnya solat malam, curhat pada-Nya atas segala masalah kehidupan ini, dan yakinlah segala apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggung-jawaban

Saya tutup tulisan ini dengan apa yang telah Allah, dengan segala kebenaran-Nya, katakan tentang kejadian yang pasti terjadi:

QS Ibrahim (14) : 21-23:
21. Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”.
22. Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) Telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah Telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun Telah menjanjikan kepadamu tetapi Aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) Aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca Aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan Aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.
23. Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam syurga itu ialah “salaam”
Mau menjadi golongan di ayat 21 atau ayat 23?

Silakan pilih